Dubai, Jakarta, dan Kuala Lumpur menjadi pusat fashion Islam baru.
Acara Islamic Fashion Week (IFW) menjadi agenda rutin di kota-kota
tersebut. Pusat mode dunia sebelumnya, seperti London, Paris, dan New
York mulai membuka pintu. Dalam dua tahun terakhir mereka menggelar
fashion show Islami dalam versi mereka sendiri. Beberapa desainer
terkemuka dunia termasuk Indonesia mulai berani menunjukkan
koleksi-koleksinya.
Muncul pemain-pemain baru di industri busana muslim Indonesia. Mereka
melahirkan mode fashion yang khas untuk kalangan muslimah. Sejumlah
nama sudah mendunia. Sebut saja diantaranya Dian Pelangi, Jenahara,
Windri Widiesta, Deden Siswanto, Kursein Karzai, dan nama-nama lainnya.
Windri Widiesta misalnya, membetot perhatian perancang busana di
Shibuya Hikarie pada gelaran Tokyo Fashion Week, pertengahan Maret 2014.
Dengan mengusung brand NurZahra, membuka mata desainer asing tentang
mode fashion muslim yang dinamis. Kepada ArabNews.com usai pergelaran
tersebut, Windri mengatakan, ”Tidak ada pembatasan dalam gaya hijab yang sederhana."
Windri mengakui bahwa busana muslim tidaklah mudah masuk industri
pemasaran. Bahkan di tanah air pun dia harus melalui perjuangan panjang.
Dia dan para desainer busana muslim lain pernah ditolak ikut dalam
acara pameran di sebuah Mall ternama di Jakarta.
Namun mereka terus berupaya hingga akhirnya pintu itu terbuka pada
2010. Para pengelola pusat perbelanjaan raksasa kelas atas mulai membuka
mata dan menyediakan tempat untuk merek lokal yang masih “bau kencur.”
Windri mendapat tawaran membuka butik di Grand Indonesia. Temi Sumarlin
juga bisa membuka gerai di Ex Plaza.
Sejak itu gelaran fashion week yang bernafaskan Islam bermunculan
setiap bulan. Bukan hanya di Jakarta, namun juga di Bandung, Surabaya,
bahkan Juni lalu digelar Batam International Hijab Festival. “Indonesia
akan menjadi pusat fashion muslim dunia pada 2020,” kata Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu.
Ketua Asosiasi Perancang Pengusama Mode Indonesia, Taruna Kusmayadi
yakin Indonesia bisa mengambil peran besar di industri busana muslim.
"Fashion muslim Tanah Air sudah mengalami begitu banyak kemajuan namun
masih butuh pengalaman lebih lagi,” katanya.
Untuk meraih mimpi itu Indonesia memang harus menjadi trend setter.
Secara berkala mode busana muslim di Indonesia terus berubah. Pada era
90-an, Indonesia sempat memiliki gaya hijab dengan menggunakan ciput dan kerudung.
Hijab ikat mengambil alih di tahun 2000-an. Jilbab ini sering
digunakan para artis dan akhirnya ditiru banyak orang. Pesona gaya hijab Indonesia pada tiga tahun terakhir didominasi full colour dan aneka motif.
Lebaran tahun ini, hijab klasik yang lebar dan sederhana atau biasa disebut hijab syar’ie mengambil alih pasar. Berbeda dengan di Timur Tengah yang cenderung memakai tone warna dasar, di Indonesia hijab syar’ie muncul dengan aneka warna benderang.
"Tahun ini muncul hijab warna-warna gold,
blink-blink, dan silver. Era millenium yang dulu booming, kini
mendominasi lagi," kata desainer Temi Sumarlin. "Meski yang paling
penting adalah modifikasi," katanya.
Modifikasi dan kombinasi memang berperan penting dalam berhijab modern. Tapi jangan asal tabrak. Akibatnya, yang muncul malah Jilboobs…

1 Komentar untuk "Indonesia Siap Menjadi Pusat Mode Busana Muslim Dunia"
waaah sampai skarang kok belum ya??
Komentar Anda Membantu Saya Untuk Menulis